Tujuh tahun lalu, saya mengenalnya sebagai pengusaha biasa saja. Benar-benar biasa. Hasil usahanya tak lebih dari sekadar bisa memberi makan anak dan istri. Sisanya: ngutang!
Kini, pengusaha biasa-biasa saja itu sudah beralih profesi. Dia menjadi politisi. Katanya, sudah lima tahun dia merintis karier dari bawah. Dari tingkat anak ranting.
Militansinya lumayan. Juga pemikirannya tentang politik dan kekuasaan. Walhasil, pada Pemilu 2009, dia ikut pencalonan anggota legislatif dan lolos.
Sekarang, dia sudah menjadi wakil rakyat. Yang terhormat wakil rakyat, tepatnya.
Tentu, dia yang dulu, tujuh tahun lalu, hanya mampu memberi makan anak-istri, kini berubah sudah. Hari pertama pelantikan saja, jasnya baru. Di bawah Armani sih, tapi paling tidak masih di atas tiga juta rupiah. Sepatu, kinclong. Mobil, kijang terbaru. Ada sopir lagi.
Saya mengenal dia, karena ada beberapa kali tagihan miliknya yang harus saya bayar.
Tak besar, tentu saja. Tapi, cukup membuat dia selalu mengingat saya. Termasuk, beberapa saat setelah dia resmi dilantik untuk kemudian menjadi Yang Terhormat Anggota Dewan.
Begitulah. Beberapa kali dia mengajak saya makan. Di hotel, di kafe. Dan, tentu saja saya dengan segala permohonan maaf tidak bisa menghadiri.
Saya terlalu sibuk. Bukan urusan politik. Tapi, sama seperti dia tujuh tahun yang lalu: mencari nafkah untuk anak dan istri.
'Sudahlah, mas. Saya sudah duduk di sini. Sekarang kita tinggal atur saja. Jangan pikirkan lagi urusan cari nafkah itu. Saya beresin nanti. Mas bantu saya deh. Ada banyak kerjaan. Kakap nih...' katanya, ketika bertelepon dengan saya tadi malam.
Menyenangkan, memang, mendapat pekerjaan. Apalagi, kalau urusan nafkah anak-istri selesai.
Masalahnya, pengusaha ini sudah jadi politisi: Yang Terhormat Anggota Dewan. Pekerjaan kakap macam apa yang akan dia tawarkan?
Ini soal lain. Saya hanya mengkhawatirkan, bahwa akan ada dendam terhadap masa lalunya: kemiskinan!
Ya. Dulu, waktu kami masih sama-sama di jalanan (istilah untuk menyebut berada di bawah garis hidup layak), dia pernah bertekad.
Bahwa, suatu saat kalau dia mendapat posisi yang bagus, dia akan membalas apa yang dulu tidak bisa dibeli: rumah mewah, mobil baru, sopir, pakaian, kalau perlu tambah istri.
Jujur, hanya itu yang saya khawatirkan dan membuat saya selalu ragu untuk bertemu dengannya: dendam kemiskinan!(***)
Tidak
diperkenankanuntuk mengirim informasi
yang dapat di interpretasikan sebagai SARA
maupun gambar tidak senonoh, semoga
Web Site ini bermanfaat bagi kita semua.