INILAH.COM, Jakarta - Meski berbeda gaya, Susilo Bambang Yudhoyono dinilai memiliki karakter yang sama dengan Presiden RI Kedua Soeharto. Di balik pencitraannya yang santun, tertanam bibit penguasa yang otoriter pada SBY.
"SBY dengan gaya pencitraan itu bertolak belakang. Ia menyatakan saya tidak ingin menjadi otoriter, saya tak ingin menguasa semuanya. Tapi dalam kenyataannya, dalam praktik politik berbeda," kata pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (27/8).
Banyak bukti-bukti, yang kata Ikrar, menunjukkan gaya SBY mengadopsi cara-cara Orde Baru. Termasuk permainan politiknya saat ini dengan PDIP. Padahal, seharusnya SBY sudah cukup percaya diri dan tidak perlu memasukkan Golkar dan PDIP dalam koalisi di kabinet. "Sekarang buktinya ngapain dia deketin PDIP?" ujarnya.
Langkah itu, menurut dia, dilakukan SBY karena tidak ingin kebijakannya diganggu di parlemen dan kabinet. "Kurang puas apa sih? Sudah sekitar 69% dukungan di parlemen apa belum cukup?" ucap Ikrar.
Dalam berpolitik, lanjut Ikrar, seharusnya SBY mengindahkan norma. Sehingga dapat menepis tuduhan SBY dan Partai Demokrat adalah Machiavellis, atau menghalalkan segala cara. "Saya kira SBY tidak punya kepercayaan diri sebagai presiden dan kepercayaan diri kepada Partai Demokrat," tandasnya. [ikl/nuz]
Tidak
diperkenankanuntuk mengirim informasi
yang dapat di interpretasikan sebagai SARA
maupun gambar tidak senonoh, semoga
Web Site ini bermanfaat bagi kita semua.